Profile Facebook Twitter My Space Friendster Friendfeed You Tube Google Yahoo MSN
Politik Pendidikan Kesehatan Ekonomi Syariah Ekonomi Global
Dakwah Islam Kata-Kata Mutiara Kata-Kata Bijak
Investasi Global Bisnis Global
Sejarah Nusantara Kerajaan Nusantara Kesultanan Nusantara Sejarah Indonesia Sejarah Wali Songo
Template News R.1 Template News R.2 Template News R.3 Template News R.4 Template News R.5
My Images My Video My Music Downloads
26% Daily For 5 Business Days.
InstaForex

Minggu, 20 November 2011

Tempat ziarah Karuhun banten

1.   Masjid Agung Banten
      Banten Grand Mosque

     Masjid Agung terletak di sebelah barat alun-alun Banten, diatas lahan seluas 0,13 hektar. Didirikan pertama kali pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin pada tahun 1566, atau tanggal 5 Zulhizah 966 H dilanjutkan pada masa Sultan Maulana Yusuf.
     Bangunan induk masjid ini berdenah segi empat dengan atap bertingkat bersusun 5 atau dikenal dengan istilah atap tumpang. Tiga tingkat yang teratas sama runcingnya. Terdapat menara yang tingginya lebih kurang 23 m bentuknya seperti mercusuar, pada jaman dulu digunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan dan sebagai menara pandang ke lepas pantai.
     Tiyamah (pavilion) merupakan bangunan tambahan yang terletak di selatan masjid, berbentuk empat persegi panjang dan bertingkat, pada masanya digunakan sebagai tempat bermusyawarah dan berdikusi mengenai keagamaan.
     Terdapat pula makam para Sultan Banten dan keluarganya seperti: Makam Sultan Maulana hasanudin, Sultan Ageng Tirtayasa, sultan Abdul Mufachir, Muhammad Aliyudin, dan lain-lain. Masjid Agung ini berlokasi di Kecamatan Kasemen, kira-kira 10 km dari pusat kota Serang.

     Built by Sultan hasanuddin and Maulana Yusuf (1566-1580 AD). 0,13 hectare area width completed by 23 meter high minaret. Tiyamah as Islamic Study Centre and Sultans cemeteries (Sultan Maulana Hasanuddin, Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Mufachir).

2.   komplek Makam Sultan Maulana Yusuf
      Sultan Maulana Yusuf Cemetery

     Maulana Yusuf adalah Putra dari Sultan Maulana hasanuddin, Beliau merupakan Sultan Banten ke-2 yang memimpin dari tahun 1570-1580 dan banyak jasanya dibidang pertanian. Makan Sultan Maulana Yusuf terletak di kampong Kasunyatan, Desa Pekalangan, Kota Serang, terletak di tengah sawah tak jauh dari jalan raya menuju Banten lama, sekitar 6 km dari kota Serang.

Sultan Maulana Yusuf brought agricultural development. The location is 6 km from Serang.

3.   Makam Sultan Pangeran Astapati/ Mulyasmara
      Prince Astapati/ Mulyasmara Cemetary

     PANGERAN ASTAPATI/ MULYASMARA adalah salah seorang tokoh agama islam di Banten yang diperkirakan berasal dari masyarakat baduy yang masuk islam dan mengabadikan dirinya kepada kesultanan Banten. Terletak di desa kasunyatan kecamatan Kasemen Kota Serang.

     He is a buduy tribe that embraced islam and fully dedicated to the Sultan. It is in kasunyatan, Kasemen subdistrict of Serang City.

4.   Masjid Kenari
      Kenari Mosque

     Masjid Kenari merupakan bangunan kepurbakalaan islam dari masa Sultan Abdul Mufachir Machmud Abdul Qadir, Sultan Banten keempat yang didalamnya terdapat taman yang dulunya tempat beristirahat para keluarga Sultan. Selain makam Sultan Abdul Mufachir Machmud Abdul Qadir juga terdapat makam ibundanya Sultan. Masjid ini terletak di desa Kenari Kecamatan Kasemen kurang lebih 7 km dari Kota Serang.

5.   Masjid Kasunyatan
      Kasunyatan Mosque

     Masjid Kasunyatan terletak di desa kasunyatan, Kecamatan Kesemen, Kota Serang, kira-kira 2 km ke sebelah selatan Masjid Agung Banten. Masjid ini dahulu digunakan sebagai tempat berkumpulnya para Ulama dari berbagai daerah Nusantara untuk mempelajari dan memperdalam mengenai agama islam. Di samping bangunan masjid terdapat makam Ratu Asyiah dan makam Kelurga Keluarga Kesultanan lainnya.

It is Kasunyatan Village, older than the Grand Mosque, which ulama from all around Indonesia came to study Islam.

6.   Makam Pangeran Arya Mandalika
      Prince Arya Mandalika Cemetary

     Pangeran Arya Mandalika adalah putra Sultan maulana Yusuf dari istri yang lain (bukan Permaisuri Ratu Khadizah). Pangeran Arya mandalika menjabat sebagai Panglima Perang merangkap Menteri Perlengkapan. Makam Pangeran Arya Mandalika terletak di kampong Kroya di pingir jalan raya Banten, sebelum Keraton Kaibon kecamatan Kasemen, Kota Serang.

     Arya Mandalika is Sultan Maulana Yusuf son and also as royal military commander. The location is about 1 km before the Grand Mosque.

7.   Makam Keramat bela/ Ki Buyut/ Shekh Tubagus Achmad
      Sheikh Tubagus Achmad Cemetary

     Makam Keramat Ki Buyut/ Shekh Tubagus Achmad merupakan makam salah seorang ulama besar yang juga sufi pada masa kesultanan Abul Mahasim Zainal Abidin. Semasa hidupnya beliau selalu membela kaum yang lemah dan sekaligus penyebar agama islam. Makam ini berada dalam komplek makam Mesjid Agung Banten.

Also know as Ki Buyut bela, a famous Sheikh during the sultanate of Mahasim Zainal Abidin.

8.   Makam Shekh TB. Achmad & Shekh TB. Chuluk (Buyut Tengkele)
      Shekh TB. Achmad And Shekh TB. Chuluk Cemetary

     LOKASI makam ini berada di tepi jalan Serang- Pandeglang sekitar 2 km dari kota Serang berupa komplek pemakaman umum seluas + hektar. Makam Shekh TB. Achmad dan Shekh TB. Chuluk terletak di bagian paling muka dari komplek pemakaman ini. Sekitar 300 meter ke sebelah Barat di tepi Sungai Cibanten terdapat pancuran yang airnya mengalir dari celah bebatuan yang disebut juga sebagai pancuran mas.
     Kebiasaan pengunjung yang mengambil air pancuran ini dengan menggunakan tabung bamboo kecil yang disebut “Tengkele”.

THE CEMETERY located in jalan Raya Serang- Pandeglang 2 km from Serang.

9.   Makam Keramat Karundang Cipager
      Karundang Cipager Cemetery

     DI LOKASI ini terdapat beberapa makam yang tersebar di beberapa tempat dengan jarak yang cukup berjauhan. Terdapat 17 buah makam diantaranya merupakan makam yang dinaungi cungkup permanent berbentuk rumah dengan makam utama R. Mas Hasani.
     Makam yang paling terkenal diantara ke-17 buah makam tersebut adalah makam Ki Buyut Srubut atau srudug.

THERE are 17 grave, but yhe most famous is Ki Buyut Srubut grave.

10. Makam Ki Tuan Syarif Penancangan
      Ki Tuan Syarif Penancangan Cemetary

    KOMPLEK makam ini berada di sebelah Utara Stadion Maulana Yusuf Penancangan Serang, dan merupakan pemakaman umum, dengan luas sekitar 1 hektar. Tokoh yang dimakamkan dalam cangkup ini merupakan keturunan Syarif/ Ayip, di antaranya tokoh yang disegani pada masanya, seperti Syarif rubi yang pernah menjalani Bupati Bogor, kijakrana pernah menjadi jaksa pada masa kesultanan.

LOCATED ON north of Stadium Maulana Yusuf Penancangan Serang. The figures buried here are the famili of Syarif/ Ayip.

11. Komplek Makam Singadaru
      Singadaru Cemetary

     LOKASI komplek makam ini terletak di jalan Ki Uju Gg. Gozali Kaojon Serang, Luas kawasan ini makam ini sekitar 1 hektar. Di sebelah utara perbatasan dengan parit yang diduga dahulu merupakan bekas sungai. Makam TB. Abdurrahman atau yang bergelar Pangeran Singadaru, yang diartikan “cahaya seperti kilat” merupakan silsilah ketujuh keturunan Sultan hasanuddin.
    Makam TB. Abdurrahman atau yang bergelar Pangeran Singadaru berada di tengah- tengah dan berada di dalam cungkup permanent berbentuk rumah.

LOCATED in jalan Ki Ki Uju Gg. Gozali Kaojon Serang, for about 1 hectare.

12. Makam Kim as Jong & Agus Ju/ Situs Banten Girang
      Banten Girang Archeological Site

     BERDASARKAN ekskavasi dan penellitian terhadap Situs Banten Girang oleh Pusat Penelitian Arkeologi dengan EFEO, jumlah pecahan keramik Cina serta sisa-sisa reruntuhan, Banten Girang ini merupakan bekas kota yang diperkirakan mulai berdiri pada abad ke-10 dan mencapai puncaknya abad ke-13-14 Masehi. Menurut Guillot, Banten Girang mengalami bencana yang disebabkan oleh penaklukan pakuan.
     Untuk mencapai Banten Girang dapat ditempuh melalui jalan kearah Pandeglang, sampai Desa Sempu kemudian melewati jalan sekitar seratus meter menyeberangi Sungai Cibanten, di seberang sungai inilah terdapat Situs Banten Girang.
     Di Banten Girang terdapat makam ki Mas Jong dan Agus Ju. Menurut sejarah, Ki Mas Jong dan Agus Ju adalah dua kakak beradik yang pertama masuk Islam dari penduduk banten girang dan pengikut setia Sultan Islam Pertama Sultan Hasanuddin. Makam ini terletak di Desa Karundang (Sempu) Cipocok Kota Serang.

     BASED ON Excavation and research archaeological site by Pusat Penelitian Arkeologi Nasional with EFEO, banten Girang built around aboat 10 century, during the 13th until 14th century was a glory priode. Guilot said that Banten destroyed by Pakuan attack.
      On Banten Girang, there are cemeteries of Ki Mas Jong and Agus Ju, both of them where the firth person who believed in Islam and becose loyal participants of Sultan Maulana hasanuddin.

13. Tempat Kelahiran Syekh Nawawi Tanara
      Syekh Nawawi’s Birthplace

      Syekh Nawawi AL BANTANI Tanara, dilahirkan di desa Tanara (Sebelah Timur laut Kota Serang) pada tahun 1813 M. Semasa hidup hingga wafat di mekkah pada tahun 1897 M di usia 84th dan dimakamkan di ma’la kota Mekkah. Beliau telah menghasilkan banyak buku yang menjadi pegangan dan kajian ulama dalam dan luar negeri. Syekh Nawawi Al Bantani bernama lengkap Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi.

      HE was a famous from tanara village, northeast of Serang City. During his life in Mecca, produced mani books of Islam reference.

14. Makam Syekh Muhammad Sholeh bin Abdurohman (Gunung Santri)
      Syekh Muhammad Sholeh Cemetery

      MAKAM Syekh Muhammad Sholeh bin Abdurohman atau lebih dikenal dengan penjiarahan Gunung Santri terletak di atas puncak Gunung Santri  di Kecamatan Bojonegara Kabupaten Serang, terletak di sebelah barat laut daerah pantai utara, 25 km dari kota Serang atau sekitar 7 Km dari Kota Cilegon.

LOCATED on the top of the Mount Santri, Bojonegara subdristrict of Serang Regency.

15. Makam Buyut Sani/ Situs
      Buyut Sani Cemetery and archaeological Site

     Situs Buyut Sani merupakan sebuah komplek pemakaman di Kecamatan Pulau Panjang dengan tokoh yang dimakamkan bernama Buyut Sani. Lokasi ini dapat ditempuh dengan perahu motor dari pelabuhan karangantu selama kurang lebih 45 menit.
      Buyut sani merupakan salah seorang ulama penyebar Islam di Pulau Panjang. Makam Buyut Sani berukuran 10,5 meter.
      Terdapat sebuah papan peringatan untuk tidak merusak dan melindungi peningalan purbakala ini yang ketika itu masih memakai memomentum Ordonantie Stbl 1931-238  sebelum diterbitkan UU No. 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya.

      Buyut Sani Cemetery is located at Pulau Panjang, it takes 45 minutes by motorboat from Karangantu. Buyut Sani was a Muslem theologian who spreads Islam in Pulau Panjang.

16. Makam Kyai Haji Washid
      Kyai Haji Washid Cemetery

     Kyai Haji Washid merupakan salah seorang ulama Banten yang gigih Menentang Belanda. Ulama ini memimpin pertempuran Geger cilegon, namun pada pertempuran Geger Cilegon tersebut Beliau wafat. Makam Beliau terletak di Kampung Jombang Wetan kota Cilegon.

A Banten Ulama that lead Geger Cilegon battle against the dutch.

17. Makam keramat Cikadueun
      Cikadueun cemetery

      Makam utama di komplek ini adalah makam Abunashr Abdulkahar atau Sultan Haji, lokasi penjiarahan ini terletak di Kampung Cikadueun, Kecamatan Saketi, kabupaten Pandeglang, masyarakat setempat menyebutnya Maulana mansyur (karena banyak menolona orang).

A FAMOUS Banten Ulama is buried here, Abunashr Abdulkahar or Sultan Haji. (son of Sultan Ageng Tirtayasa)

18. Masjid Salafiah Caringin
      Salafiah Caringin Cemetary

     Didirikan sekitar tahun 1884 oleh penduduk Caringin secara bergotong royong yang dipimpin oleh Ulama syekh Asnawi. Tidak jauh dari Masjid Caringin terdapat makam KH. Muhammad Asnawi (Syekh Asnawi bin Abdul Rohman) yang wafat pada tahun 13356 H (1937 M) yang terletak di tepi pantai, Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang.

Built In 1884 lead by Sheikh Asnawi, His Grave located nearby the Mosque.


19. Makam Keramat Solear
      Solear Cemetary

     Makam keramat Solear merupakan makam Syekh Mas Masad bin Hawa seorang tokoh agama Islam. Kawasan Makam Keramat Solear merupakan kawasan hutan dan dihuni oleh ratusan ekor kera, yang terletak di Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, 16 km dari Tigaraksa, dapat ditempuh dengan kendaran roda dua dan empat.

Cemetary of Sheikh mas Masad bin Hawa. A colony of monkeys life there mysteriously.

20. Makam Pangeran Jaga Lautan/ Pulau Cangkir
       Pangeran Jaga Lautan Grave

      Pangeran Jaga Lautan adalah putra Sultan Banten dari Istri yang lain (bukan Nyi Ratu Ayu Kirana). Beliau merupakan salah seorang Ulama besar Banten yang menyebarkan Islam di kawasan pesisir utara Banten. Terletak di Desa kronjo Kabupaten Tangerang.

SON of Banten Sultan, he was know as afamous Ulama in Banten and rest in an island (Cangkir Island)

21. Vihara Avalokitesvara
      Avalokitesvara Buddhist Monastery

     Klenteng Avalokitesvara merupakan salah satu vihara tertua di Indonesia, yang dibangun sekitar abad ke-16, di dalamnya terdapat patung Dewi Kwan Im peninggalan masa kaisar China Dynasty Ming. Vihara ini masih berfungsi sebagai tempat beribadah agama Badha. Terletak di kampong kasunyatan, Desa Banten Kasemen, Kota Serang, lokasinya berdekatan dengan Benteng Spelweijk.

      ONE the oldest Buddhist temple in Indonesia. The Kwan Im Goddes statue from Ming Dinasty is the collection of the temple.

22. Vihara Tjoe Soe Kong/ Klenteng Tanjung Kait
      Tjoe Soe Kong Buddhist Monestary

      Kelenteng Tjoe Soe Kong terletak di kawasan pantai Tanjung Kait, di atas lahan kurang lebih 10.000, meter persegi. Kronologi berdirinya bangunan ini  tidak diketahui secara pasti. Konsep bentuk bangunan vihara atau kelenteng ini berdasarkan pada aturan-aturan khusus sesuai yang diatur pada agama budha. Tidak jauh dari lokasi klenteng ini terdapat makam Dewi Neng, Mbah Rahman, Aki Brosut, dan lain-lain. Telah terjadi pembauran antara pendatang Tionghoa dengan kepercaan kaum pribumi.

NEARBY Tanjung Kait Beach. This Monastery is a melting pot of Indonesia and Chinese Culture.

23. Klenteng Boen San Bio
      Boen San Bio buddist monastery

     Klenteng Boen San Bioterletak di jalan Pasar Bayu, Kelurahan Kranjaya, kecamatan Karawaci, Kota Tangerang. Didirikan pada tahun 1689 yang merupakan tempat beribadah Umat Budha dan  konghucu. Kelenteng tersebut salah satu klenteng tertua di Banten dan terkenal dengan tradisi pecunnya.

Selasa, 15 November 2011

Google jujur terhadap pemasang iklannya

Pendahuluan

Bagi yang belum tahu apakah dan bagaimana cara kerja Google Adsense, maka disinilah yang paling tepat untuk mulai memahaminya.

Google adalah sebuah perusahaan raksasa yang menyediakan mesin pencari yang bersaing dengan Yahoo!. Selain menyediakan mesin pencari gratis, Google juga menyediakan fasilitas lainnya seperti Google Map yang menyediakan zoom dari satelit masing-masing lokasi bumi, Blogger yang berada di bawah naungan Google juga menyediakan jasa bagi para penggila Blog untuk mencurahkan segala sesuatunya lewat blog.

Adsense sendiri berasal dari penggalan kata ad (inggris = advertising / advertisement). Berarti adsense sendiri berarti periklanan.

Jadi dengan mengikuti Google Adsense kita otomatis bisa disebut dengan publisher. Publisher artinya orang yang mengiklankan sebuah atau beberapa iklan kepada orang lain dengan harapan orang lain tsb mengklik iklan yang ditawarkan oleh publisher dan orang yang memasang iklan tsb memetik keuntungan daripadanya.

Cara kerjanya

Lantas apakah untungnya menjadi seorang publisher bagi Google?. Dan bagaimana cara mendulang dollar yang katanya bisa sampai ribuan atau puluhan ribu $$$ perbulan?.

Sebelum menjawab itu kita harus mengetahui dahulu bahwa Google menawarkan kepada pemasang iklan untuk memasarkan produk atau perusahaannya kepada masyarakat di seluruh dunia lewat Google itulah.....dan itu yang disebut dengan Adword. Jadi sekarang kita bisa membuat kesimpulan bahwa "Adword is source for Adsense"......"Adword merupakan sumber/induk dari Adsense".......

Jadi pemasang iklan yang memasang iklannya pada Google lewat Adword itu hanya akan membayar kepada Google kalau ada orang yang mengklik iklannya. Ingat, pemasang iklan hanya membayar kalau memang iklan itu sudah dibaca oleh orang yang ditujunya tidak masalah orang yang mengklik itu nantinya join atau tidak atau membeli atau tidak produk yang ditawarkan, yang penting sudah mengklik. Dan otomatis Google hanya akan mendapatkan keuntungan hasil memasangkan iklan dari pemasang iklan bila iklan itu sudah diklik orang.

Untuk mendapatkan itu Google harus mencari cara agar iklan yang dipasang itu diklik orang agar tepat sampai ditujuan. Google jujur terhadap pemasang iklannya dengan cara tidak mengklik sendiri (oleh Google) iklan itu agar pemasang iklan membayar. Jadi harus dicari cara agar iklan itu tepat disasaran dan pemasang iklanpun senang demikian pula Google senang (sebab dapat fee dari pemasangan iklan tsb).

Di pihak lain pemasang iklanpun tidak mau iklannya ditayangkan kesembarang orang. Bisa saja pemasang iklan yang hendak menawarkan real estate misalnya maka pemasang iklan lebih senang bila iklannya ditayangkan pada orang yang memang sedang mencari suatu rumah atau yang memang hobby dalam hal itu.

Atau iklan tentang jual beli anjing hias, makanan anjing, sekolah anjing dsb (di LN hal ini biasa), maka bukankah sebaiknya orang yang mengklik adalah orang yang memang menyukai bidang 'per-anjing-an' itu, bukan orang yang hobby elektronika misalnya atau bukan pula orang yang menyukai design dan interior.

Sebuah cara yang jenius dari Google telah ditemukan untuk menjawab semua kebutuhan tersebut yaitu dengan mencari publisher yang akan menyampaikan iklan tsb ke porsinya secara tepat. Yaitu dengan Google Adsense.

Jadi bila sebuah web/blog yang membahas tentang binatang hias bila menggunakan adsense maka Google akan mendapatkan kata kunci dari dominan artikel tsb dan menampilkan iklan-iklan yang berhubungan dengan binatang hias.

Sebuah web/blog yang berisi tentang bisnis akan menghasilkan iklan tentang bisnis pula dan tidak akan menampilkan iklan tentang elektronika atau tentang binatang hias itu.

Dengan demikian kita bisa ambil kesimpulan bahwa target yang dituju oleh pemasang iklan sudah tepat sasaran dan secara otomatis akan bisa menghasilkan seperti yang diharapkan oleh pemasang iklan ketimbang iklannya di-klik oleh orang yang hanya iseng-iseng saja mengklik iklan tsb.

Bayangkan saja, orang yang membuka web/blog yang membahas tentang elektronika misalnya diberi iklan tentang cara-cara merawat kuku misalnya, kalaupun sampai diklik tentunya cuma klik iseng/karena keingin-tahuan saja. Rugi kan yang pasang iklan.....oke???

Dengan menjadi publisher kita mempunyai web/blog yang membahas tentang apa saja dan membantu Google untuk memasarkan iklan yang telah dipasang pada program Adword tsb. Dan dengan bertambahnya klik iklan yang dipasang maka bertambah banyak pula komisi yang didapat oleh Google dari pemasang iklan. Kita sendiri sebagai publisher.......yang telah membantu Google menghasilkan klik untuk iklannya......tentunya dibayar oleh Google sekian persen dengan suatu rumusan yang nanti akan dijelaskan dibawah.

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah,lahir sekitar 1450 M, namun ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir pada sekitar 1448 M. Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok ulama besar di Jawa bernama walisongo. Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya Walisongo yang menyebarkan Islam di Jawa Barat.

Ayah Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah, lahir sekitar tahun 1450. Ayahnya adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar, seorang Mubaligh dan Musafir besar dari Gujarat, India yang sangat dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air. Syekh Maulana Akbar adalah putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar di Hadramaut, Yaman yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucunya Imam Husain.

Ibu Sunan Gunung Jati

Ibu Sunan Gunung Jati adalah Nyai Rara Santang (Syarifah Muda'im) yaitu putri dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang, dan merupakan adik dari Kian Santang atau Pangeran Walangsungsang yang bergelar Cakrabuwana / Cakrabumi atau Mbah Kuwu Cirebon Girang yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi bin Ahmad. Ia dimakamkan bersebelahan dengan putranya yaitu Sunan Gunung Jati di Komplek Astana Gunung Sembung ( Cirebon )

Silsilah Sunan Gunung Jati

.Sunan Gunung Jati @ Syarif Hidayatullah Al-Khan bin
.Sayyid 'Umadtuddin Abdullah Al-Khan bin
.Sayyid 'Ali Nuruddin Al-Khan @ 'Ali Nurul 'Alam bin
.Sayyid Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan bin
.Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin
.Sayyid Abdullah Al-'Azhomatu Khan bin
.Sayyid Amir 'Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin
.Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
.Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)bin
.Sayyid Ali Kholi' Qosim bin
.Sayyid Alawi Ats-Tsani bin
.Sayyid Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
.Sayyid Alawi Awwal bin
.Sayyid Al-Imam 'Ubaidillah bin
.Ahmad al-Muhajir bin
.Sayyid 'Isa Naqib Ar-Rumi bin
.Sayyid Muhammad An-Naqib bin
.Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin
.Sayyidina Ja'far As-Sodiq bin
.Sayyidina Muhammad Al Baqir bin
.Sayyidina 'Ali Zainal 'Abidin bin
.Al-Imam Sayyidina Hussain
.Al-Husain putera Ali bin Abu Tholib dan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad
Silsilah dari Raja Pajajaran
.Sunan Gunung Jati @ Syarif Hidayatullah
.Rara Santang (Syarifah Muda'im)
.Prabu Jaya Dewata @ Raden Pamanah Rasa @ Prabu Siliwangi II
.Prabu Dewa Niskala (Raja Galuh/Kawali)
.Niskala Wastu Kancana @ Prabu Siliwangi I
.Prabu Linggabuana @ Prabu Wangi (Raja yang tewas di Bubat)

Pertemuan orang tua Sunan Gunung Jati

Pertemuan Rara Santang dengan Syarif Abdullah cucu Syekh Maulana Akbar masih diperselisihkan. Sebagian riwayat (lebih tepatnya mitos) menyebutkan bertemu pertama kali di Mesir, tapi analisis yang lebih kuat atas dasar perkembangan Islam di pesisir ketika itu, pertemuan mereka di tempat-tempat pengajian seperti yang di Majelis Syekh Quro, Karawang (tempat belajar Nyai Subang Larang ibu dari Rara Santang) atau di Majelis Syekh Datuk Kahfi, Cirebon (tempat belajar Kian Santang kakanda dari Rara Santang).

Syarif Abdullah cucu Syekh Maulana Akbar, sangat mungkin terlibat aktif membantu pengajian di majelis-majelis itu mengingat ayah dan kakeknua datang ke Nusantara sengaja untuk menyokong perkembangan agama Islam yang telah dirintis oleh para pendahulu.

Pernikahan Rara Santang putri dari Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang dengan Abdullah cucu Syekh Maulana Akbar melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Syarif Hidayatullah.

Perjalanan Hidup & Proses belajar Sunan Gunung Jati

Raden Syarif Hidayatullah mewarisi kecendrungan spiritual dari kakek buyutnya Syekh Maulana Akbar sehingga ketika telah selesai belajar agama di pesantren Syekh Datuk Kahfi ia meneruskan ke Timur Tengah. Tempat mana saja yang dikunjungi masih diperselisihkan, kecuali (mungkin) Mekah dan Madinah karena ke 2 tempat itu wajib dikunjungi sebagai bagian dari ibadah haji untuk umat Islam.
Babad Cirebon menyebutkan ketika Pangeran Cakrabuwana membangun kota Cirebon dan tidak mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayatullah mengambil peranan mambangun kota Cirebon dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru dibentuk itu setelah Uwaknya wafat.

Pernikahan Sunan Gunung Jati

Memasuki usia dewasa sekitar di antara tahun 1470-1480, ia menikahi adik dari Bupati Banten ketika itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini, ia mendapatkan seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Maulana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I.

Kesultanan Demak

Masa ini kurang banyak diteliti para sejarawan hingga tiba masa pendirian Kesultanan Demak tahun 1487 yang mana ia memberikan andil karena sebagai anggota dari Dewan Muballigh yang sekarang kita kenal dengan nama Walisongo. Pada masa ini, ia berusia sekitar 37 tahun kurang lebih sama dengan usia Raden Patah yang baru diangkat menjadi Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah. Bila Syarif Hidayat keturunan Syekh Maulana Akbar Gujarat dari pihak ayah, maka Raden Patah adalah keturunannya juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa.

Dengan diangkatnya Raden Patah sebagai Sultan di Pulau Jawa bukan hanya di Demak, maka Cirebon menjadi semacam Negara Bagian bawahan vassal state dari kesultanan Demak, terbukti dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif Hidayatullah secara resmi sebagai Sultan Cirebon.
Hal ini sesuai dengan strategi yang telah digariskan Sunan Ampel, Ulama yang paling di-tua-kan di Dewan Muballigh, bahwa agama Islam akan disebarkan di P. Jawa dengan Kesultanan Demak sebagai pelopornya.

Gangguan proses Islamisasi

Setelah pendirian Kesultanan Demak antara tahun 1490 hingga 1518 adalah masa-masa paling sulit, baik bagi Syarif Hidayat dan Raden Patah karena proses Islamisasi secara damai mengalami gangguan internal dari kerajaan Pakuan dan Galuh (di Jawa Barat) dan Majapahit (di Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan gangguan external dari Portugis yang telah mulai expansi di Asia Tenggara.

Tentang personaliti dari Syarif Hidayat yang banyak dilukiskan sebagai seorang Ulama kharismatik, dalam beberapa riwayat yang kuat, memiliki peranan penting dalam pengadilan Syekh Siti Jenar pada tahun 1508 di pelataran Masjid Demak. Ia ikut membimbing Ulama berperangai ganjil itu untuk menerima hukuman mati dengan lebih dulu melucuti ilmu kekebalan tubuhnya.

Eksekusi yang dilakukan Sunan Kalijaga akhirnya berjalan baik, dan dengan wafatnya Syekh Siti Jenar, maka salah satu duri dalam daging di Kesultana Demak telah tercabut.
Raja Pakuan di awal abad 16, seiring masuknya Portugis di Pasai dan Malaka, merasa mendapat sekutu untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayat yang telah berkembang di Cirebon dan Banten. Hanya Sunda Kelapa yang masih dalam kekuasaan Pakuan.

Di saat yang genting inilah Syarif Hidayat berperan dalam membimbing Pati Unus dalam pembentukan armada gabungan Kesultanan Banten, Demak, Cirebon di P. Jawa dengan misi utama mengusir Portugis dari wilayah Asia Tenggara. Terlebih dulu Syarif Hidayat menikahkan putrinya untuk menjadi istri Pati Unus yang ke 2 di tahun 1511.

Kegagalan expedisi jihad II Pati Unus yang sangat fatal di tahun 1521 memaksa Syarif Hidayat merombak Pimpinan Armada Gabungan yang masih tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai (belakangan dikenal dengan nama Fatahillah),untuk menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka, sebagai Panglima berikutnya dan menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di P. Jawa.

Sangat kebetulan karena Raja Pakuan telah resmi mengundang Armada Portugis datang ke Sunda Kelapa sebagai dukungan bagi kerajaan Pakuan yang sangat lemah di laut yang telah dijepit oleh Kesultanan Banten di Barat dan Kesultanan Cirebon di Timur.

Kedatangan armada Portugis sangat diharapkan dapat menjaga Sunda Kelapa dari kejatuhan berikutnya karena praktis Kerajaan Hindu Pakuan tidak memiliki lagi kota pelabuhan di P. Jawa setelah Banten dan Cirebon menjadi kerajaan-kerajaan Islam.

Tahun 1527 bulan Juni Armada Portugis datang dihantam serangan dahsyat dari Pasukan Islam yang telah bertahun-tahun ingin membalas dendam atas kegagalan expedisi Jihad di Malaka 1521.
Dengan ini jatuhlah Sunda Kelapa secara resmi ke dalam Kesultanan Banten-Cirebon dan di rubah nama menjadi Jayakarta dan Tubagus Pasai mendapat gelar Fatahillah.

Perebutan pengaruh antara Pakuan-Galuh dengan Cirebon-Banten segera bergeser kembali ke darat. Tetapi Pakuan dan Galuh yang telah kehilangan banyak wilayah menjadi sulit menjaga keteguhan moral para pembesarnya. Satu persatu dari para Pangeran, Putri Pakuan di banyak wilayah jatuh ke dalam pelukan agama Islam. Begitu pula sebagian Panglima Perangnya.

Perundingan Yang Sangat Menentukan

Satu hal yang sangat unik dari personaliti Syarif Hidayatullah adalah dalam riwayat jatuhnya Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda pada tahun 1568 hanya setahun sebelum ia wafat dalam usia yang sangat sepuh hampir 120 tahun (1569). Diriwayatkan dalam perundingan terakhir dengan para Pembesar istana Pakuan, Syarif Hidayat memberikan 2 opsi.
Yang pertama Pembesar Istana Pakuan yang bersedia masuk Islam akan dijaga kedudukan dan martabatnya seperti gelar Pangeran, Putri atau Panglima dan dipersilakan tetap tinggal di keraton masing-masing. Yang ke dua adalah bagi yang tidak bersedia masuk Islam maka harus keluar dari keraton masing-masing dan keluar dari ibukota Pakuan untuk diberikan tempat di pedalaman Banten wilayah Cibeo sekarang.

Dalam perundingan terakhir yang sangat menentukan dari riwayat Pakuan ini, sebagian besar para Pangeran dan Putri-Putri Raja menerima opsi ke 1. Sedang Pasukan Kawal Istana dan Panglimanya (sebanyak 40 orang) yang merupakan Korps Elite dari Angkatan Darat Pakuan memilih opsi ke 2. Mereka inilah cikal bakal penduduk Baduy Dalam sekarang yang terus menjaga anggota pemukiman hanya sebanyak 40 keluarga karena keturunan dari 40 pengawal istana Pakuan. Anggota yang tidak terpilih harus pindah ke pemukiman Baduy Luar.

Yang menjadi perdebatan para ahli hingga kini adalah opsi ke 3 yang diminta Para Pendeta Sunda Wiwitan. Mereka menolak opsi pertama dan ke 2. Dengan kata lain mereka ingin tetap memeluk agama Sunda Wiwitan (aliran Hindu di wilayah Pakuan) tetapi tetap bermukim di dalam wilayah Istana Pakuan.

Sejarah membuktikan hingga penyelidikan yang dilakukan para Arkeolog asing ketika masa penjajahan Belanda, bahwa istana Pakuan dinyatakan hilang karena tidak ditemukan sisa-sisa reruntuhannya. Sebagian riwayat yang diyakini kaum Sufi menyatakan dengan kemampuan yang diberikan Allah karena doa seorang Ulama yang sudah sangat sepuh sangat mudah dikabulkan, Syarif Hidayat telah memindahkan istana Pakuan ke alam ghaib sehubungan dengan kerasnya penolakan Para Pendeta Sunda Wiwitan untuk tidak menerima Islam ataupun sekadar keluar dari wilayah Istana Pakuan.

Bagi para sejarawan, ia adalah peletak konsep Negara Islam modern ketika itu dengan bukti berkembangnya Kesultanan Banten sebagi negara maju dan makmur mencapai puncaknya 1650 hingga 1680 yang runtuh hanya karena pengkhianatan seorang anggota istana yang dikenal dengan nama Sultan Haji.
Dengan segala jasanya umat Islam di Jawa Barat memanggilnya dengan nama lengkap Syekh Maulana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Rahimahullah.

Permusuhan Banten dan Jawa

Permusuhan Banten dan Jawa dilatarbelakangi oleh keinginan Mataram untuk menguasai seluruh pulau Jawa.

Pada tahun 1624, Mataram menaklukkan Madura dan pada tahun 1625 merebut pelabuhan Surabaya. Parahiyangan dan Cirebon yang merupakan hak Banten setelah meruntuhkan Kerajaan Sunda pada 1579, pada masa ini juga direbut oleh Jawa.

Banten dan Batavia melihat kekuasaan Jawa semakin besar dan mereka merasa cemas. Waktu raja Madura, yang negerinya dirampas Mataram, melarikan diri ke Kesultanan Banten (1624), ia malah diserahkan ke Mataram untuk dibunuh, demikian pula seorang adipati Sumenep. Hal ini dilakukan Banten karena tidak mau mengambil risiko.

Pada tahun 1628, Mataram meminta Banten supaya menyerahkan diri kepada Mataram namun Banten menolak. Pada tahun 1628 dan 1629, Mataram menyerang Batavia namun gagal. Pada masa ini Banten mengerahkan tentaranya ke perbatasan dengan Batavia di sisi sungai Cisadane untuk siap-siap menjaga kemungkinan serangan kepada Banten.

Dalam tahun 1644, utusan Mataram tiba di Banten. Beda dengan maksud sebelumnya yang meminta Banten agar takluk kepada Mataram, saat ini Mataram memintanya menjadi sekutu. Hanya saja Kesultanan Banten yang saat ini merasa lebih kuat menolak permintaan tersebut bahkan siap-siap untuk merebut kembali Cirebon dari Mataram.

Pada saat Banten diperintah oleh Sultan Abulmafakhir, pada tahun 1646, saat Amangkurat menggantikan Sultan Agung, Mataram masih ingin manaklukan Banten. Awal tahun 1648 Banten mengambil langkah besar untuk menangkal kemungkinan serangan: kapal-kapal perang besar dibangun dan para penduduk di sekitar kota diperintahkan untuk masuk kedalam perlindungan benteng kota. Usaha tersebut dirasakan manfaatnya beberapa tahun kemudian. Dua tahun kemudian, dua misi diplomatik tiba di Banten; mereka meminta agar Banten menyerahkan diri kepada Mataram. Banten menjawab bahwa Banten hanya tunduk kepada pimpinan besar di Mekah. Mataram segera memberikan reaksi dengan mengirim armada angkatan laut dari Cirebon, jajahan Mataram, untuk menyerang Banten. Terjadilah pertempuran sengit di lautan sekitar Tangerang. Banten memenangkan pertempuran ini serta membunuh lima ratus tentara Cirebon. Dengan demikian Mataram dapat dikalahkan oleh Banten.

Saat Sultan Ageng Tirtayasa menjadi sultan Banten, Mataram masih juga tidak menghentikan niatnya untuk menguasai Banten. Tapi karena trauma dengan kekalahan angkatan perangnya, saat ini strategi penguasaan dilakukan dengan upaya mengawinkan anak perempuan Sultan Ageng Tirtayasa dengan anak laki-laki sultan Mataram. Usaha tersebut gagal akibat meletusnya perang Inggris – Belanda dimana Banten turut dalam perang ini serta memihak Inggris.

Pengkhianatan yang paling besar adalah pengkhianatan umat, sedang pengkhianat yang paling keji yaitu pengkhianatan pemimpin.
Perjuangan Sejati © Copyright 2011-2017 Gaur Padjadjaran Nusantara All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.